Tim Kurikulum Otomatis · 28 Agustus 2026

Inquiry learning dan discovery learning sering disebut bersamaan karena sama-sama menghindari penjelasan langsung di awal pembelajaran. Tapi keduanya punya penekanan yang sedikit berbeda, dan memahami bedanya membantu Anda memilih pendekatan yang lebih pas untuk situasi tertentu.
Discovery learning, seperti dibahas di artikel discovery learning, fokus membimbing murid menemukan pola atau konsep dari fenomena yang sudah disiapkan guru. Inquiry learning lebih menekankan pada proses murid merumuskan pertanyaan sendiri dan merancang cara menjawabnya, dengan peran murid yang lebih aktif menentukan arah penyelidikan, bukan hanya mengikuti skenario yang sudah disiapkan penuh oleh guru.
Sederhananya, discovery learning lebih terbimbing dari awal, inquiry learning memberi ruang lebih besar bagi murid merumuskan pertanyaannya sendiri.
Guru menyajikan fenomena atau topik umum yang memancing keingintahuan, tanpa menentukan pertanyaan spesifik yang harus dijawab.
Murid, dengan bimbingan guru, merumuskan pertanyaan penyelidikan mereka sendiri berdasarkan fenomena yang disajikan. Ini beda dari discovery learning di mana guru biasanya sudah menyiapkan arah pertanyaannya.
Murid merancang dan melaksanakan cara mengumpulkan informasi untuk menjawab pertanyaan mereka sendiri, bisa lewat observasi, eksperimen, atau riset sumber lain.
Murid menyusun kesimpulan dari hasil penyelidikan dan mempresentasikannya, termasuk merefleksikan apakah pertanyaan awal mereka terjawab atau justru memunculkan pertanyaan baru.
Orientasi: Guru menunjukkan foto berbagai jenis awan di langit yang berbeda-beda bentuknya.
Merumuskan pertanyaan: Murid dalam kelompok merumuskan pertanyaan sendiri, misalnya "kenapa bentuk awan bisa berbeda-beda?" atau "apakah bentuk awan bisa memprediksi cuaca?"
Menyelidiki: Setiap kelompok mencari informasi dari buku atau sumber yang disediakan sesuai pertanyaan mereka masing-masing, mungkin juga mengamati langit selama beberapa hari.
Menyimpulkan: Setiap kelompok mempresentasikan temuan mereka, yang bisa berbeda-beda satu sama lain karena pertanyaan awalnya juga berbeda.
Kelebihannya, murid belajar merumuskan pertanyaan yang baik, keterampilan yang sering terlewat dalam pembelajaran konvensional. Tantangannya, karena pertanyaan tiap kelompok bisa berbeda, guru butuh fleksibilitas lebih besar dalam membimbing dan menilai, dibanding kegiatan yang seluruh kelas mengerjakan hal yang identik.
Pilih inquiry learning kalau tujuan Anda memang melatih keterampilan bertanya dan merancang penyelidikan sendiri. Pilih discovery learning kalau Anda ingin murid menemukan satu konsep spesifik yang sudah jelas targetnya, dengan skenario yang lebih terarah dari awal.
Apakah inquiry learning cocok untuk semua jenjang kelas? Bisa diterapkan di berbagai jenjang, tapi tingkat kebebasan merumuskan pertanyaan perlu disesuaikan — kelas yang lebih muda butuh bimbingan lebih ketat.
Bagaimana menilai hasil inquiry kalau tiap kelompok punya pertanyaan berbeda? Gunakan rubrik yang menilai proses — kualitas pertanyaan, ketepatan metode penyelidikan, kedalaman kesimpulan — bukan membandingkan jawaban akhir yang seragam.
Apa yang dilakukan kalau pertanyaan murid ternyata terlalu luas untuk diselidiki dalam waktu yang tersedia? Bimbing murid mempersempit pertanyaan mereka di tahap orientasi, misalnya dari "kenapa cuaca berubah?" menjadi pertanyaan yang lebih spesifik dan bisa diselidiki dalam beberapa hari.
Merancang orientasi yang tepat untuk memancing pertanyaan murid yang bermakna membutuhkan kreativitas dan pemahaman karakter kelas. KurikulumOtomatis menyusun draf modul ajar yang bisa Anda kembangkan lebih lanjut dengan pendekatan inquiry sesuai topik yang Anda ajarkan. Coba gratis dengan 1 kredit percobaan di halaman pendaftaran.
Merancang pertanyaan pemantik yang tepat untuk inquiry learning di tiap topik butuh waktu tersendiri. Modul Ajar Generator KurikulumOtomatis menyusun draf modul ajar yang bisa Anda kembangkan dengan pendekatan ini.

AI bisa mempercepat penyusunan soal secara drastis, tapi ada beberapa batasan yang perlu dipahami agar hasilnya tetap layak dipakai untuk ulangan sesungguhnya.
7 September 2026

Analisis butir soal membantu menemukan soal yang bermasalah dan memahami pola kesulitan murid. Ini cara melakukannya secara sederhana tanpa aplikasi statistik rumit.
5 September 2026

AI makin mudah diakses murid, bukan hanya guru. Ini panduan etika penggunaan AI di sekolah yang bisa dijadikan pegangan bersama, bukan sekadar larangan sepihak.
4 September 2026