Tim Kurikulum Otomatis · 29 Juli 2026

Salah satu perbedaan mendasar Kurikulum Merdeka dari kurikulum sebelumnya adalah pengelompokan capaian belajar per fase, bukan per kelas. Bagi guru yang sudah lama terbiasa berpikir "kelas 4 harus begini, kelas 5 harus begitu", perpindahan ke sistem fase awalnya terasa membingungkan.
Berikut pembagian lengkapnya, sekaligus alasan mengapa sistem ini dipakai.
| Fase | Kelas | |---|---| | Fase Fondasi | PAUD/TK | | Fase A | Kelas 1-2 SD | | Fase B | Kelas 3-4 SD | | Fase C | Kelas 5-6 SD | | Fase D | Kelas 7-9 SMP | | Fase E | Kelas 10 SMA/SMK | | Fase F | Kelas 11-12 SMA/SMK |
Perhatikan, sebagian besar fase mencakup dua kelas, kecuali Fase E yang hanya mencakup satu kelas (kelas 10), dan Fase F yang mencakup dua kelas terakhir jenjang menengah.
Kelas 10 diperlakukan sebagai fase tersendiri karena dianggap masa transisi dari SMP ke SMA, sekaligus periode eksplorasi minat sebelum murid mulai lebih fokus ke peminatan di kelas 11 dan 12. Pemisahan ini juga selaras dengan sistem penjurusan yang lebih fleksibel di jenjang menengah saat ini, dibanding sistem jurusan kaku di kurikulum sebelumnya.
Alasan utamanya adalah memberi keleluasaan waktu. Setiap murid punya kecepatan belajar berbeda. Dengan sistem per kelas, murid yang belum menguasai materi kelas 5 harus tetap lanjut ke materi kelas 6 sesuai jadwal, meninggalkan celah pemahaman yang menumpuk. Dengan sistem per fase, guru punya waktu dua tahun (Fase C misalnya) untuk memastikan target itu tercapai, dengan fleksibilitas mengatur kapan bagian mana diajarkan.
Ini juga memberi ruang bagi guru mengelola kelas dengan kemampuan murid yang beragam, karena target capaiannya adalah akhir fase, bukan akhir tahun ajaran per kelas.
Saat menyusun ATP, Anda menyusun untuk satu fase penuh, bukan satu kelas. Artinya kalau Anda mengajar Fase C, ATP yang Anda susun mencakup materi untuk kelas 5 dan 6 sekaligus, dengan pembagian yang Anda tentukan sendiri berdasarkan tingkat kesulitan dan keterkaitan antar materi.
Kalau Anda belum familiar dengan proses ini, ada panduan lengkapnya di artikel cara menyusun ATP.
Tidak. Kenaikan kelas tetap berjalan seperti biasa setiap tahun ajaran, tapi target capaian pembelajarannya mengacu ke akhir fase, bukan akhir kelas. Jadi murid kelas 5 yang naik ke kelas 6 masih berada di fase yang sama (Fase C), dan target capaiannya baru dievaluasi penuh di akhir kelas 6.
Memahami fase dengan benar adalah dasar penting sebelum menyusun CP, ATP, atau modul ajar, karena kesalahan memilih fase akan membuat seluruh dokumen turunannya tidak sesuai jenjang murid. Kalau Anda sudah yakin dengan fase yang diampu dan ingin mempercepat penyusunan perangkatnya, KurikulumOtomatis bisa menyusun CP, ATP, modul ajar, dan prota promes secara otomatis sesuai fase, kelas, dan mata pelajaran yang Anda pilih. Coba gratis dengan 1 kredit percobaan di halaman pendaftaran.
Foto: Naval Surface Warriors via Wikimedia Commons, lisensi CC BY-SA 2.0.

Pembelajaran mendalam jadi istilah yang sering muncul belakangan. Ini penjelasan konsepnya secara sederhana dan cara menerapkannya di kelas tanpa mengubah total cara mengajar.
27 Juli 2026

Minggu efektif jadi dasar semua perhitungan alokasi waktu, dari prota sampai promes. Ini cara menghitungnya dengan benar berdasarkan kalender pendidikan.
26 Juli 2026

Cara menyusun program semester dari prota, lengkap dengan cara membuat matriks minggu efektif dan tips menyebar materi agar tidak menumpuk di akhir semester.
26 Juli 2026