Tim Kurikulum Otomatis · 2 Agustus 2026

Banyak guru langsung melompat menyusun ATP begitu mendapat dokumen CP, tanpa melalui tahap analisis terlebih dahulu. Akibatnya, ATP yang dihasilkan sering terasa acak atau kehilangan benang merah antar tujuan pembelajaran. Analisis CP adalah tahap yang menjembatani dua hal itu.
CP ditulis dalam bentuk paragraf naratif yang memuat banyak informasi sekaligus: kompetensi, konten, dan kadang konteks penerapannya. Tanpa dianalisis, informasi ini sulit langsung diterjemahkan menjadi urutan tujuan pembelajaran yang logis. Analisis CP memecah paragraf itu menjadi unit-unit yang lebih kecil dan terkelola.
Setiap mata pelajaran punya beberapa elemen atau domain, misalnya Bahasa Indonesia punya elemen menyimak, membaca, berbicara, dan menulis. Buat daftar seluruh elemen ini terlebih dahulu sebagai kerangka besar analisis Anda.
Untuk setiap elemen, baca deskripsi CP-nya dan garis bawahi kata kerja yang menunjukkan kompetensi. Satu paragraf CP biasanya memuat lebih dari satu kompetensi yang tergabung dalam kalimat panjang.
Selain kompetensi, tandai juga konten atau lingkup materi yang disebutkan. Terkadang CP menyebutkan materi secara eksplisit (misalnya "pecahan", "teks prosedur"), terkadang implisit dan perlu Anda tafsirkan dari konteks kalimat.
Susun hasil analisis ke dalam tabel sederhana dengan kolom elemen, kompetensi, dan konten. Tabel ini menjadi dasar untuk merumuskan TP di langkah berikutnya, seperti dijelaskan di artikel cara merumuskan tujuan pembelajaran.
Contoh tabel sederhana dari CP IPAS Fase B:
| Elemen | Kompetensi | Konten | |---|---|---| | Pemahaman IPAS | Mengidentifikasi | Bentuk-bentuk energi | | Pemahaman IPAS | Mendeskripsikan | Pemanfaatan energi listrik | | Keterampilan proses | Mengamati | Perubahan energi di sekitar |
Setelah semua elemen dianalisis, cek apakah ada keterkaitan antar elemen yang bisa dimanfaatkan untuk mengurutkan ATP secara lebih koheren. Misalnya elemen pemahaman konsep biasanya perlu diajarkan sebelum elemen keterampilan proses yang menerapkan konsep itu.
Beri catatan mana kompetensi yang tergolong dasar (mengingat, memahami) dan mana yang lebih kompleks (menganalisis, mencipta). Catatan ini membantu Anda mengurutkan ATP dari yang sederhana ke yang kompleks di tahap berikutnya.
Setelah keenam langkah ini selesai, Anda akan punya tabel pemetaan lengkap yang menjadi bahan baku untuk merumuskan TP dan menyusun ATP. Proses ini memang menambah satu tahap di awal, tapi justru mempercepat tahap-tahap berikutnya karena Anda tidak perlu bolak-balik membaca ulang dokumen CP yang panjang.
Menganalisis CP untuk seluruh elemen satu mata pelajaran secara manual bisa memakan waktu setengah hari sendiri. KurikulumOtomatis melakukan proses analisis ini secara otomatis di balik layar setiap kali menyusun ATP, sehingga Anda langsung mendapat hasil akhir yang terurut tanpa perlu membuat tabel pemetaan manual. Coba gratis dengan 1 kredit percobaan di halaman pendaftaran.
Foto: Fitrah 9131 via Wikimedia Commons, lisensi CC BY 3.0.

Kata kerja operasional dari taksonomi Bloom revisi jadi rujukan utama merumuskan tujuan pembelajaran dan soal. Ini daftar lengkapnya per tingkatan kognitif.
2 Agustus 2026

Gerakan ini jadi salah satu opsi pelaksanaan kokurikuler terbaru. Ini daftar tujuh kebiasaan tersebut dan contoh penerapannya yang sederhana di lingkungan sekolah.
1 Agustus 2026

Kokurikuler sering disamakan dengan proyek P5, padahal cakupannya lebih luas dan bentuknya makin fleksibel. Ini penjelasan lengkapnya untuk guru.
31 Juli 2026