Tips Mengajar

Asesmen Formatif dan Sumatif, Ini Bedanya dan Kapan Memakainya

Tim Kurikulum Otomatis · 31 Juli 2026

Asesmen Formatif dan Sumatif, Ini Bedanya dan Kapan Memakainya

Formatif dan sumatif adalah dua kata yang muncul di hampir setiap pelatihan tentang asesmen, tapi praktiknya di lapangan sering tercampur aduk. Banyak guru memakai ulangan harian sebagai satu-satunya bentuk penilaian, padahal fungsi formatif dan sumatif sebenarnya berbeda.

Asesmen formatif: memantau proses

Asesmen formatif dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung, tujuannya memantau pemahaman murid secara berkala dan memberi umpan balik cepat, bukan untuk menentukan nilai akhir. Hasilnya dipakai guru untuk menyesuaikan cara mengajar saat itu juga.

Contoh bentuk asesmen formatif:

  • Pertanyaan lisan di tengah pembelajaran
  • Kuis singkat tanpa nilai, hanya untuk cek pemahaman
  • Sticky note berisi satu pertanyaan yang masih membingungkan murid
  • Observasi guru saat murid mengerjakan tugas kelompok

Asesmen sumatif: mengukur hasil akhir

Asesmen sumatif dilakukan di akhir suatu periode belajar, misalnya akhir topik, akhir bab, atau akhir semester, tujuannya mengukur sejauh mana tujuan pembelajaran tercapai secara keseluruhan. Hasil sumatif inilah yang biasanya menjadi komponen nilai rapor.

Contoh bentuk asesmen sumatif:

  • Ulangan harian di akhir satu topik
  • Penilaian tengah semester
  • Penilaian akhir semester
  • Proyek akhir yang dinilai dengan rubrik

Perbedaan mendasar dalam satu tabel

| Aspek | Formatif | Sumatif | |---|---|---| | Waktu | Selama proses belajar | Akhir periode belajar | | Tujuan | Memantau dan menyesuaikan | Mengukur hasil akhir | | Pengaruh ke nilai | Umumnya tidak langsung | Langsung memengaruhi nilai | | Sifat | Sering, informal | Lebih jarang, lebih formal |

Kesalahan yang sering terjadi

Kesalahan paling umum adalah memberi nilai pada setiap asesmen formatif, sehingga murid dan guru sama-sama menganggapnya sebagai "ujian kecil" yang menekan, bukan alat bantu belajar. Padahal justru karena tidak dinilai, formatif memberi ruang aman bagi murid untuk salah dan belajar dari kesalahan itu tanpa takut nilainya turun.

Kesalahan lain adalah hanya mengandalkan sumatif tanpa formatif sama sekali, sehingga guru baru tahu murid kesulitan setelah nilai ulangan keluar, padahal sudah terlambat untuk memperbaiki proses belajar topik itu.

Cara menyeimbangkan keduanya di modul ajar

Saat menyusun modul ajar, sisipkan minimal satu bentuk asesmen formatif di setiap pertemuan, sekecil apa pun, misalnya pertanyaan penutup atau observasi singkat. Sumatif cukup direncanakan di titik-titik tertentu sesuai kebutuhan, tidak perlu di setiap pertemuan.

Kalau Anda belum tahu cara menyusun bagian asesmen di modul ajar secara lengkap, lihat kembali penjelasannya di artikel komponen modul ajar.

Menyusun rencana asesmen tanpa ribet

Merencanakan kapan formatif dan kapan sumatif dilakukan untuk satu semester penuh cukup memakan pikiran kalau dikerjakan manual sambil menyusun modul ajar satu per satu. KurikulumOtomatis menyusun draf modul ajar lengkap dengan rencana asesmen di setiap pertemuan, sehingga Anda tinggal menyesuaikan bentuknya dengan kondisi kelas. Coba gratis dengan 1 kredit percobaan di halaman pendaftaran.

Foto: U.S. Navy photo by Journalist 2nd Johnny Michael via Wikimedia Commons.